Kisah ini tentang Tanjung harapan, salah satu camp untuk observasi Orang Utan di Taman Nasinal Tanjung Puting.
Tanjung Harapan adalah Camp pertama yang kami kunjungi di Taman nasional Tanjung Puting. Karena camp pertama, degdegkannya masih kerasa. Masih berpikir, bagaimana yah nanti kalau di cegat orang utan? Bagaimana kalau dikejar? Bagaimana kalau ada orang utan yang minta gendong? :D
Belum lagi ketakutan akan bertemu dengan binantang buas. Katanya di Taman Nasional Tanjung Puting juga ada beruang, macan dahan, kucing utan. Kalau ketemu mereka bagaimana? Sumpah deg deg kan. Tapi karena niatnya memang ingin ngeliat orang utan di habitat aslinya, ya udah resiko di tanggung. deg deg kannya di tahan saja. Jangan sampai batal liat orang utannya karena takut :p
Setelah selesai makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan ke camp 1. Tepat setelah sampai di darat, kami langsung narsis-narsisan. pokoknya setiap spot harus narsis duluuuuu. :D
Di dermaga camp 1 ini terdapat beberapa bangunan balai konservasi dan informasi orang utan. Selain itu terdapat gudang tempat menyimpan makanan bagi orang utan. Katanya beberapa kali gudang ini di serang orang utan jantan yang ingin mengambil makanan.
Sebelum masuk ke dalam hutan, kami berkumpul sejenak untuk mendapat sedikit briefing. Pemandu meberikan beberapa aturan utama yang yang harus kami ikuti, yaitu :
- tidak boleh membawa makanan / minuman
- tidak boleh memberikan makanan / minuman
- tidak merokok
- berbicara pelan tidak boleh berisik.
- jika ada orang utan mendekat, tetap tenang dan beri jalan. jangan menghalangi dan memegang mereka, apalagi minta selfie. NO NO NO :p
Teringat salah satu informasi yang pernah saya baca, bahwa orang utan di Kalimantan Tengah termasuk salah satu jenis Orang Utan Kalimantan dengan ukuran badan paling besar.
Berat orangutan Borneo dewasa jantan mencapai 50 - 90 kg dan tinggi badan 1,25 - 1,5 m. Seukuran saya tingginya. oh no #tutupmuka. Kembali deg-deg kan.
Tiba-tiba rombongan di depan saya berhenti. Mereka terlihat melihat ke kanan. Akh ternyata ada orang utan, sedang bergelantungan di dekat sarangnya, seolah tidak perduli dengan kehadiran kami. Kami pun mulai berbisi-bisik. Kegairahan terlihat di wajah teman-teman seperjalanan saya. Kami semakin tak sabar ingin melihat Orang Utan lebih dekat.
Orang utan pertama yang saya lihat ini terlalu jauh untuk diambil gambarnya. Kebetulan saya sedang menggunakan lensa kit standar, sehingga ga bisa membidik jauh. Saya sebenarnya bawa lensa semi tele saya, tapi belum saya pasang. Mindset saya masih kayak liat orang utan di Ragunan. Sampai di sarang nya baru kita bisa liat Orang Utan. Ga nyangka kalau mereka ada di mana-mana hahaha. Saya pun mengutuk dalam hati, kenapa tadi di kapal ga langsung pasang lensa telenya. akh sudahlah
Kami pun melanjutkan perjalanan.
Tidak jauh dari tempat pertama tadi, sekali lagi kami melihat ada orang utan. Kali ini jaraknya lebih dekat. Langsung lah saya ambil gambarnya
Setelah puas, Kami pun segera melanjutkan perjalan.
Satu hal penting yang perlu diingat ketika berjalan di hutan, jangan berjalan sendirian. beradalah dekat dengan group anda.
Setelah berjalan sekitar 10menit kami pun sampai di area memberi makan (feeding area). Area memberi makan orang utan ini sederhana saja. Hanya berupa panggung kecil di tengah area yang sedikit terbuka. Di sisi lain, pengunjung diberikan beberapa tempat duduk untuk mengamati orang utan.
Ketika kami sampai, belum banyak orang utan yang berkumpul. Ada beberapa yang sudah ada di dekat panggung, seolah-olah mereka tahu bahwa sebentar lagi feeding time. Mereka tampak tidak terganggu oleh kedatangan kami. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang nampak memandangi kami. Suasaya terasa tenang.
Memanfaatkan waktu, segera saya mengganti lensa kamera saya, dan mulai mengambil gambar orang utan yang sedang bergelantungan di pohon sekitar panggung. Akh senang rasanya mendapatkan gambar orang utan dengan berbagai posisi dan berbagai ekspresi.
Sekitar 5 menit berselang terdengar suara lolongan panjang dari arah kami datang tadi. Seorang Ranger datang membawa makanan. Lolongan tersebut ternyata cara untuk memanggil orang utan. Segera terlihat orang utan mendekati panggung. Ada sekitar 5-7 orang utan yang terlihat mendekat. Sayapun kembali asik mengambil gambar mereka. Saya perhatikan mereka tidak terlalu besar cenderung kecil dan tidak tinggi. Sempet kepikiran, "katanya besar. ternyata ga sebesar yang saya bayangkan."
Tak lama setelah saya berpikir begitu, tiba-tiba terdengar orang berbisik-bisik di sebalah kiri saya. Saya melihat beberapa orang pindah ke arah datangnya suara tersebut. Penasaran, sayapun pindah ke sana.
Ternyata di sana ada seekor orang utan yang BESAR. Sama seperti yang digambarkan oleh artikel yang saya pernah baca. Agak deg deg kan, saya mendekat ke orang utan tersebut. Belakangan saya tau namanya Roger.
Orang utan Jantan pertama yang saya lihat. Sumpah ini orang utan besar banget. kalau dia berdiri tegak sepertinya akan sama dengan tinggi badan saya. wajahnya pun galak. Cukup lama dia berada di tempat ini, sebelum akhirnya bergerak pindah ke arah panggung.
Hal yang menarik terjadi. Ketika Roger pindah ke panggung, semua orang utan lain langsung menyingkir. Tidak berani berada di dekat Roger. Semua makanan dikuasai Roger. Di sini saya baru sadar ada strata di antara mereka. Di sini hukum rimba benar-benar berlaku. YANG KUAT YANG BERKUASA. Terasa sekali aura penguasa yang di pancarkan oleh Roger.
Ketika kami pulang pemandu bercerita, demikian lah kehidupan Orang utan. Mereka beradu kekuatan untuk menunjukkan diri. Kata pemandu kami sebenarnya Rojer bukan lah penguasa di camp 1. Ada orang utan lain yang merupakan penguasa camp 1 (yang maaf saya lupa namanya).
Saya jadi membayangkan, kalau wibara Roger saja sampai begitu, bagaimana si penguasa camp 1? pasti lebih besar dan lebih galak.
Jadi ga bisa berhenti berhayal. Bagaimana yah kalau mereka bertemu? Rame kali yah... :D
Mudah-mudahan ga pas saya ada di sana. Serem pasti ngeliat orang utan berantem.

No comments:
Post a Comment