Wednesday, December 9, 2015

ketika ego menguasai perasaan

aku sebenarnya tidak cukup paham apakah ini ego atau bukan.
tapi setidaknya itu penilaian aku tentang cerita ini.

begini ceritanya.

aku punya seorang sahabat.
cantik, cerdas, sehingga banyak pria yang mengejar ngejar dirinya.
ibarat kata, dia tinggal mengedipkan matanya, maka akan ada laki-laki yang mendekatinya.
tapi jangan bayangkan dirinya sebagai seorang wanita yang genit centil dan suka mempermainkan laki-laki yah. ga sama sekali. bahkan cenderung galak :D
karna dia sangat hati-hati memilih pasangan hidupnya.

tapi ya itu. dia menarik sehingga bisa dibilang sebenarnya mudah untuk dia menemukan pasangan hidupnya.
seharusnya... :D

sebelumnya dia tidak pernah "galau" tentang pasangan hidup.
sebab dia sudah berpacaran lebih dari 7tahun.
pacarnya baik, penuh perhatian dan sangat sayang padanya.
bahkan pada saat ia masih dalam status punya pacar pun sebenarnya banyak laki-laki yang tetap mengejar dirinya.
jadi buat apa galau soal itu?

sampai pada sebuah titik pacarnya meninggalkan dirinya menduakan dirinya dengan yang lain.
pada saat mereka sedang mempersiapkan pernikahan mereka.
seperti dunia runtuh seketika.

perlahan lahan dia mencoba membangun runtuhan hatinya
mulai melebarkan sayap dan mencari yang lain.

seperti yang aku katakan tadi, dia cantik, jadi seharusnya tidak sulit bagi dia untuk menemukan yang baru.
jika diperhatikan dari telepon yang sering menghubungi dia.
teman yang sering mengajaknya berjalan-jalan atau sekedar nonton dan makan malam,
aku masih yakin tidak sulit baginya untuk mencari "gebetan" baru.

tapi sayangnya kok sampai sekarang dia belum juga punya teman dekat? 3 tahun sudah berjalan sejak terakhir dia berpacaran. tiga tahun ini ia membuka diri, tapi sepertinya belum juga ada yang terlihat lebih dari sekedar seorang teman.

suatu hari dia pun bercerita kepada saya tentang apa yang dia cari.
betapa dia kesal pada mantannya, dan bagaimana ia berusaha mengalahkan mantanya.
dia berusaha mencari orang yang jauh lebih baik dari sang mantan.

keluar lah ia dengan sejumlah list kriteria calon yang dia cari.
1. pria yang mapan
2. ganteng
3. talented.
4. sayang sama dia.
5. setia
6. ibadahnya bagus
7. seumuran, bahkan kalau bisa yang lebih tua. ga mau yang lebih muda
8. belum menikah.
9.  .... akh saya lupa.
yang saya ingat tidak kurang dari 15 kriteria yang dia harapkan.

saat itu saya tersenyum sendiri.
gimana yah cara dia berdoa untuk memohon mendapatkan orang dengan seluruh kriteria yang di aharapkan tadi? menarik. walaupun sedikit geli. :D

saya sempat bertanya. "ga kebanyakan tuh kriterianya?"
dengan PD dia menjawab. "ga dong mbak.... kan kita emang harus cari yang terbaik"

"yakin bisa nemukan bisa menemukan orang dengan seluruh kriteria itu?"
"ada mbak, pasti ada"

"seberapa yakin kamu dek akan menemukan orang dengan kriteria itu?"
"100%"

"kapan?"
"tahun ini!"

"udah ada ancer-ancernya?
"belum"

"apa yang udah kamu lakukan agar ini terwujud?"
"paling minta di kenalin sama keluarga, temen, dan lain-lain."

"mang sebelum ini ga pernah minta tolong mereka?"
"udah sih."

"hasilnya?
":D belum hehehe"

"kalau aq boleh usul sih dek, pilih 3 kriteria utama aja dari semua list itu, 3 itu aja yag di pegang, selebihnya hanya jadi kreteria pendukung. agar memperbesar kemungkinan kamu bertemu dek"
"ga bisa mbak. semua harus ada. misalnya nieh kalau ganteng bisa aja dia ga setia. kalau ga kaya aku nanti ga bisa main dong...." bla bla bla.... sampai akhirnya aq terdiam.

dan saya ga bisa berkata-kata lagi.
saya hanya bisa berkata dalam pikiran saya.
sebuah mimpi besar.
atau bolehkan saya katakan sebuah ego yang menguasai perasaan?

keinginan -mohon maaf jika saya katakan- tanpa dasar yang kuat, tanpa rencana yang jelas.
nafsu ingin mengalahkan karena luka yang pernah terjadi
ego yang terluka, yang akhirnya menguasai perasaan.

saya akhirnya hanya bisa berdoa. semoga luka nya segera tersembuhkan. agar egonya tidak lagi menguasai seluruh dirinya.
aku hanya bisa berdoa. semoga diberikan kelapangan dada untuk menemukan sisi positif dari segala pilihan yang ada, agar ia tidak lagi terpaku pada kondisi ideal yang jarag sekali ada.

No comments:

Post a Comment